Wartawan Kunjungi Operasional KPC, Saksikan Teknologi Tambang Raksasa dan Upaya Rehabilitasi Lingkungan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KUTAI TIMUR – Rombongan wartawan dari berbagai media lokal dan nasional disambut hangat setibanya di Kantor Pusat PT Kaltim Prima Coal (KPC). Kehadiran mereka diterima langsung oleh jajaran Public Communication perusahaan, di antaranya Superintendent Public Communication Siswahyudi, Supervisor Guest Relations Ade Anang, serta Officer Media Relations Wahyu Sujatmiko, Senin (17/11/2025).
Sambutan tersebut menjadi pembuka agenda kunjungan lapangan yang bertujuan memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai operasional tambang serta implementasi pengelolaan lingkungan di area KPC.
Tak lama setelah pertemuan awal, para jurnalis diarahkan menuju Prima Square Area menggunakan bus operasional. Selama perjalanan, tim KPC menjelaskan bahwa wilayah ini bukan hanya pusat aktivitas penambangan, tetapi juga lokasi penerapan program rehabilitasi lahan pascatambang.

Area bekas galian telah ditanami berbagai jenis pohon sebagai upaya memulihkan ekosistem dan mengembalikan fungsi lingkungan secara berkelanjutan.
Dalam sesi penjelasan teknis, perwakilan KPC, Mas Denas, memaparkan berbagai aspek teknik operasional. Ia menegaskan bahwa beberapa alat yang digunakan perusahaan merupakan unit terbesar yang beroperasi di Indonesia.
“Alat yang paling besar ini, kalau dihitung, Indonesia hanya punya beberapa unit saja. Di KPC Raya ada tiga unit, dan semuanya beroperasi di area ini,” ujarnya.
Satu unit excavator raksasa yang digunakan memiliki kapasitas 90 ton sekali “sendok”. Tiga alat inilah yang menjadi tulang punggung produksi di area tersebut.
Sementara itu, untuk pengangkutan material, KPC mengoperasikan truk tambang berkapasitas 300 ton sekali angkut satu tingkat di bawah jenis truk super besar yang pernah dipamerkan di area Bukit Pandang. Dengan bobot penuh mencapai 700 ton, kendaraan ini jelas tidak dapat melintas di jalan umum.
“Kalau lewat Jalan Teluk Lingga, mungkin amblas semua,” ujar seorang petugas sambil tersenyum.

Truk memiliki lebar sekitar 7 meter, sehingga operasionalnya sepenuhnya dilakukan di area tambang.
Perjalanan berlanjut menuju Pit 270, salah satu pit terdalam yang dikelola KPC. Di kiri dan kanan area pit tampak genangan air yang tertata, merupakan bagian dari strategi dewatering untuk mengendalikan air tanah.
KPC menerapkan teknik settling pond yaitu membuat kolam-kolam bertingkat agar air dari pit yang berada di bawah permukaan laut dapat dipompa naik secara bertahap.
“Tidak ada pompa yang mampu menarik langsung dari kedalaman itu. Karena itu kami bentuk kolam berjenjang. Di pit ini saja ada sekitar 23–24 unit pompa,” jelas tim teknis.
Jumlah pompa tersebut merupakan yang terbanyak dibandingkan pit lainnya di KPC.
Meski produksi tahunan di area tersebut “hanya” sekitar 3 juta ton, kualitas batubaranya merupakan salah satu yang terbaik, karena termasuk kategori prima coal.
Sepanjang perjalanan, para wartawan dapat melihat aktivitas tambang yang masif namun tertata. Unit-unit seperti Liebherr HD, water tank, dan Strada hilir-mudik di jalur hauling dengan koordinasi yang rapi. Seluruh alat berat menggunakan bendera identitas perusahaan sebagai penanda keselamatan sekaligus sistem pengenalan operasional. (Yuristio)
![]()
- Penulis: Redaksi


