Diduga Induk dan Anak, Beruang Madu Makin Sering Muncul di Permukiman Warga
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
www.kaltim12.com/,KUTIM – Warga Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, kembali dibuat resah dengan kemunculan beruang madu yang semakin sering terlihat di sekitar permukiman. Satwa liar tersebut bahkan dilaporkan mendekati rumah warga dalam beberapa hari terakhir.
Kemunculan beruang ini diketahui bukan pertama kali terjadi. Berdasarkan keterangan warga dan pemerintah desa, keberadaan satwa tersebut sudah terpantau sejak menjelang Ramadan 2026 di kawasan Sungai Liu.
Setelah sempat menghilang selama beberapa pekan, beruang kembali muncul usai Lebaran. Namun kali ini, intensitas kemunculannya jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Dalam laporan warga, beruang tersebut terlihat hampir setiap hari dan berpindah-pindah lokasi. Mulai dari RT 5, kemudian ke RT 4, hingga kini muncul di wilayah RT 1 yang lebih dekat dengan permukiman padat.
Kepala Desa Marah Haloq, Gusti Mandala, mengungkapkan bahwa awalnya hanya satu ekor beruang berukuran kecil yang terlihat. Namun belakangan diduga terdapat lebih dari satu ekor.
“Awalnya hanya satu yang kecil. Tapi sekarang kemungkinan sudah ada induknya juga. Yang besar ukurannya bisa mencapai 60 sampai 70 kilogram,” ujarnya.
Ia menjelaskan, warga sempat berupaya mengusir beruang dengan cara sederhana. Namun upaya tersebut tidak memberikan hasil jangka panjang.
“Pernah kami coba usir secara manual, sempat hilang beberapa minggu. Tapi setelah Lebaran muncul lagi, bahkan sekarang hampir setiap hari terlihat,” tambahnya.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa memutuskan untuk tidak mengambil risiko dengan penanganan mandiri. Koordinasi pun dilakukan dengan aparat kepolisian dan instansi terkait.
Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto mengingatkan masyarakat untuk tidak bertindak sendiri dalam menghadapi satwa liar tersebut. Ia menekankan pentingnya keselamatan warga.
“Kami minta masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan berbahaya. Hindari area yang rawan dan segera laporkan jika melihat beruang,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa beruang madu termasuk satwa yang dilindungi sehingga tidak boleh dilukai atau diburu oleh warga.
“Selain berbahaya, tindakan melukai satwa dilindungi juga melanggar hukum. Jadi kami harap masyarakat bisa menahan diri,” tegasnya.
Saat ini, pihak desa bersama aparat terus berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Timur guna menangani kemunculan beruang tersebut secara profesional.
Hingga kini, belum ada laporan korban akibat kejadian tersebut. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada dan membatasi aktivitas di area yang berpotensi menjadi jalur perlintasan beruang.
![]()
- Penulis: Redaksi