Disbun Kutim Tingkatkan Kapasitas Petani Kakao Lewat Pelatihan dan Inovasi Produk
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 17 Nov 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perkebunan (Disbun) terus mendorong peningkatan kualitas dan nilai tambah komoditas kakao. Upaya ini dilakukan dengan memberikan pelatihan pengolahan dan pengembangan produk bagi kelompok tani di berbagai kecamatan penghasil kakao.
Kabid Usaha, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Disbun Kutim, Aminudin Azis, menyampaikan bahwa kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki prospek cerah di Kutai Timur. Beberapa kecamatan seperti Busang, Karangan, dan Kaubun menjadi sentra utama penghasil kakao dengan potensi pengembangan yang terus meningkat.
“Para petani kita sudah mulai dibina secara intensif, terutama di desa-desa seperti Rantau Sambosa di Busang, serta Karangan Timur dan Tengah Dembaru di Kaubun. Mereka tidak hanya diajarkan menanam, tetapi juga bagaimana mengolah hasil panennya menjadi produk bernilai jual,” ungkap Aminudin, Senin (17/11/2025)
Sebagai bentuk keseriusan, Disbun Kutim bahkan telah mengirim perwakilan petani ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember untuk mengikuti pelatihan teknis. Di sana, peserta mendapatkan materi mengenai fermentasi, pengeringan, hingga teknik pembuatan coklat batang dan bubuk.
“Kami ingin petani memiliki pemahaman dari hulu ke hilir. Jadi tidak hanya menjual bahan mentah, tapi bisa menghasilkan produk jadi yang punya nilai tambah,” jelasnya.
Selain mengirim peserta ke luar daerah, Disbun juga menghadirkan narasumber dari Jember langsung ke Kutai Timur agar lebih banyak petani bisa menikmati program pelatihan serupa tanpa perlu bepergian jauh.
Menurut Aminudin, langkah ini membuahkan hasil nyata. Kini, sejumlah kelompok tani mulai memproduksi coklat batang, bubuk coklat, dan minuman instan berbasis kakao, bahkan ada yang berinovasi mencampurkannya dengan bahan lokal seperti gula aren dan jahe merah.
“Kami senang melihat semangat para petani. Inovasi ini membuktikan bahwa produk lokal Kutim punya daya saing,” tambahnya.
Ia menegaskan, pengembangan kakao bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat dan kemandirian desa. Dengan kemampuan mengolah sendiri, petani diharapkan mampu meningkatkan pendapatan tanpa tergantung pada penjualan bahan mentah.
“Ke depan, kita ingin Kutai Timur dikenal bukan hanya sebagai penghasil kakao, tapi juga sebagai daerah pengolah coklat unggulan di Kalimantan Timur,” tutupnya.(Adv/Kominfo)
![]()
- Penulis: Redaksi


