Tiga Bimtek Kebudayaan Dibuka Langsung Wakil Bupati Kutim Secara Bersamaan
- account_circle Redaksi Kaltim12
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sangatta – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) membuka tiga kegiatan penguatan kebudayaan secara bersamaan di Meeting Room Zenova Royale Hotel, Kamis (10/9/2026).
Tiga kegiatan tersebut meliputi Bimbingan Teknis Tata Kelola Lembaga Kesenian Tradisional, Pelatih Seni Tarsul, dan Pelatih Seni Teater. Seluruh kegiatan berlangsung selama 10 hingga 12 September 2026.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham mengatakan, ketiga kegiatan tersebut memiliki arti penting dalam mendukung pengembangan kebudayaan di daerah.
“Pada hari ini ada tiga kegiatan yang akan kita laksanakan yang kemudian kita satukan pembukaannya di hari ini. Yang pertama tentang tata kelola kelembagaan tradisional, kemudian Pelatih Seni Tarsul dan Pelatih Seni Teater,” kata Ilham.
Kegiatan tersebut diikuti peserta dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. Menurut Ilham, pembahasan tata kelola kelembagaan mendapat perhatian khusus karena masih terdapat tantangan administrasi pada lembaga-lembaga seni dan kebudayaan.
Ia menyebut persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan AD ART, badan hukum, NPWP, hingga penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dalam pengajuan proposal bantuan.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting di tengah defisiensi anggaran yang membatasi kemampuan pemerintah daerah dalam membantu lembaga seni dan kebudayaan hanya melalui APBD.
Selain tata kelola, kegiatan pelatih seni Tarsul dan teater juga berkaitan dengan pengembangan kurikulum muatan lokal di sekolah. Disdikbud Kutim berharap peningkatan kemampuan guru dapat mendukung implementasi buku-buku muatan lokal yang telah diterbitkan dan didistribusikan ke seluruh sekolah di Kutai Timur.
Sementara itu, Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi meminta pengembangan kesenian tradisional tidak hanya berorientasi pada pertunjukan, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter dan nilai positif bagi masyarakat.
Mahyunadi mengatakan setiap aktivitas manusia memiliki dampak. Karena itu, kegiatan seni perlu dikelola dengan baik agar memberikan pengaruh yang positif. Ia mengutip pesan yang pernah didengarnya dalam sebuah ceramah yang mengenai adanya alur dari setiap perbuatan yang dilakukan manusia.
“Perbuatan baik ada alurnya, perbuatan jahat ada alurnya,” kata Mahyunadi.
Menurutnya, prinsip tersebut juga dapat diterapkan dalam pengelolaan kegiatan kesenian. Ia berharap pelatih, peserta dan para penggiat seni tetap mengedepankan nilai moral serta keimanan dalam menjalankan kegiatan.
“Yang paling utama tetap dari pelatihnya sampai seluruh pesertanya, sampai seluruh penggiatnya harus tetap menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya. (Cia/ADV/*)
- Penulis: Redaksi Kaltim12


