RKAB Pertambangan Kembali Normal, Angin Segar bagi Pertumbuhan Ekonomi Kutai Timur
- account_circle Redaksi Kaltim12
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sangatta – Pemerintah Kutai Timur (Kutim) berharap, perubahan Rencana Kerja Angaran Biaya (RKAB) pertambangan terutama batu bara, yang kembali normal, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Kutai Timur. Sebab, akibat RAKB dipangkas pemerintah pusat, pertumbuhan ekonomi Kutim tahun lalu, hanya naik 1,5 peren, mengingat Produk Domestik Regional Bruto Kutim, sangat tergantung pada pertambangan batu bara.
“Saya dengar RKAB sudah mulai normal dari pemerintah pusat. Pemerintah Pusat sudah kembalikan seperti semula. Karena itu kita berharap tahun depan kita akan bisa melihat hasil daripada pertumbuhan tahun ini, berdampak pertumbuhan ekonomi tahun depan,” kata Ardiansyah pada wartawan (8/10), usai sambutan dalam tangka memperingatu Hari Ulangtahun Kutim ke 27, di DPRD Kutim.
Tapi, diakui, meskipun keadaan ekonomi kembali pulih, tantangan lain dari pembangunan Kutim terutama pembangunan infrastrukur adalah, terutama wilayah Kutim yang sangat luas. Karena luasnya, maka pemerintah saat ini belum mampu berikan peningkatan infrastruktur yang signifikan. Namun, pemerintah akan terus bergerak, meskipun kenyataan memang ada beberapa wilayah Kutim yang juga terkena dampak daripada kondisi alam, ada tanah yang terturun dan sebagainya ini, yang perlu penanganan cepat.
“Nah, saya menyatakan tahun ini RKAB semua itu dikembalikan oleh pemerintahan pusat. Harapannya semua kembali normal dan bisa memberikan kemajuan lagi,” katanya.
Disebutkan, dampak RKAB yang dikurangi awalnya mengkuatirkan, terutama pengurangan tenaga kerja. Namun pengurangan RKAB yang dilakukan pemerintah pusat terhadap beberapa perusahaan masih menahan diri untuk tidak melakukan itu Pengurangan tenaga kerja. “Karena itu, kita terima kasih kepada perusahaan. Nah dengan pengembalian RKAB ini kita berharap tahun depan ini kembali normall karena memang pertumbuhan kita sekarang ini masih dominasinyai sector pertambangan,” katanya. (ADV/*)
- Penulis: Redaksi Kaltim12


