Kekeringan Landa Kutai Timur, DTPHP Akui Sumber Air Jadi Persoalan Utama Petani
- account_circle Redaksi Kaltim12
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kutai Timur, – Petani Kutai Timur menghadapi ancaman gagal panen akibat kekeringan yang melanda dalam sebulan terakhir, seiring dampak perubahan iklim yang dirasakan langsung oleh sektor pertanian daerah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur Purno Edi mengatakan, laporan kekeringan telah diterima dari sejumlah kelompok tani yang baru saja melakukan masa tanam, salah satunya di kawasan Teluk Pandan.
”Baru tanam, kemarin tanam bersama, habis itu sudah kekeringan, itu kasihan banget, kasihan. Jadi kita memang risikonya risiko gagal itu cukup tinggi,” kata Purno Edi saat ditemui di ruang kerjanya,Senin (31/8/2026).
Ia menjelaskan, tanaman yang baru memasuki masa tanam membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mendukung fase pertumbuhan awal. Kekeringan yang terjadi sejak sebulan pertama masa tanam dinilai meningkatkan risiko kegagalan produksi secara signifikan.
”Kalau setelah tanam itu memang butuhnya untuk pertumbuhan terlebih dahulu, tapi kalau dari awal ini di satu bulan pertama ini kering, ini kita juga berisiko gagal panen,” ujarnya.
Purno Edi menyebut, laporan serupa juga diterima dari kelompok tani di Kecamatan Bengalon. Sebagai respons, DTPHP telah mendistribusikan bantuan pompa air dari pemerintah pusat dan daerah kepada petani terdampak. Namun, ia menegaskan persoalan utama bukan pada keterbatasan sarana, melainkan pada minimnya sumber air akibat kemarau berkepanjangan.
”Sekarang pertanyaannya bukan masalah pompa airnya atau sarananya, tapi sumber airnya,” terangnya.
Ia menambahkan, pihaknya tengah menjajaki kolaborasi dengan sejumlah pihak swasta guna memitigasi risiko gagal panen, mengingat faktor alam sulit dikendalikan sepenuhnya. Ia turut menyinggung upaya rekayasa cuaca yang sempat dilakukan pemerintah provinsi, namun dinilai belum mampu mengatasi persoalan kekeringan secara menyeluruh.
Terkait keberadaan embung yang sebelumnya dibangun sebagai antisipasi kekeringan, Purno Edi mengakui fasilitas tersebut belum sepenuhnya efektif di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, karena sumber air embung juga bergantung pada curah hujan.
”Kemampuan manusia kembali ke kemampuan, dan dengan faktor alam ini akan berbeda,”pungkasnya (fhani/ADV)
![]()
- Penulis: Redaksi Kaltim12


