Air Mulai Menipis, Pemuda Kutim Hebat Minta Lahan Pertanian Terdampak El Nino Dipetakan
- account_circle Redaksi Kaltim12
- calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kaltim12.com,KUTIM – Kekhawatiran terhadap dampak El Nino mulai menjadi perhatian di sektor pertanian Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Berkurangnya ketersediaan air di sejumlah lahan pertanian, khususnya wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, mendorong Pemuda Kutim Hebat meminta pemerintah segera melakukan pemetaan terhadap wilayah yang berpotensi terdampak.
Ketua Pemuda Kutim Hebat, Habibi, mengatakan pemetaan penting dilakukan untuk mengetahui kondisi lahan sekaligus tingkat kerawanan yang dihadapi petani. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi dasar pemerintah dalam menentukan bentuk bantuan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Pemerintah harus segera turun ke lapangan dan melihat kondisi nyata. Bantuan harus tepat sasaran sesuai tingkat kerawanan,” kata Habibi.
Ia menyebut keluhan mengenai berkurangnya air mulai disampaikan sejumlah kelompok tani. Jika kondisi tersebut tidak segera diantisipasi, keterbatasan air dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, hingga meningkatkan risiko gagal panen.
Karena itu, Pemuda Kutim Hebat mendorong pemerintah tidak hanya mengandalkan penanganan setelah kondisi semakin parah. Intervensi sejak awal dinilai diperlukan agar petani tetap dapat menjalankan aktivitas produksi di tengah perubahan kondisi iklim.
Untuk langkah darurat, pemerintah didorong menyiapkan suplai air bagi lahan pertanian yang mengalami kekurangan. Selain itu, bantuan berupa pompa air dan terpal atau plastik membran juga dinilai dapat digunakan sebagai penampungan sementara untuk memenuhi kebutuhan air petani.
Habibi juga mengusulkan adanya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi persoalan tersebut. Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, pemadam kebakaran, hingga perusahaan seperti KPC, Pertamina dan pihak swasta lainnya dapat dilibatkan sesuai kewenangan dan sumber daya yang dimiliki.
“Jangan sampai petani baru mendapat perhatian ketika tanaman sudah terlanjur rusak. Antisipasi harus dilakukan sejak sekarang dengan melihat wilayah mana yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Selain penanganan darurat, Pemuda Kutim Hebat menilai pemerintah perlu menyiapkan strategi jangka panjang. Perbaikan jaringan irigasi, pembangunan embung sebagai sumber cadangan air, serta edukasi mengenai pola tanam yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim menjadi sejumlah langkah yang dinilai penting.
Pemetaan wilayah pertanian, kata Habibi, juga diharapkan tidak berhenti pada pendataan. Hasil pemetaan harus menjadi acuan dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur pertanian maupun distribusi bantuan kepada kelompok tani.
Dengan langkah tersebut, ancaman kekurangan air diharapkan dapat ditekan dan ketahanan produksi pangan di Kutai Timur tetap terjaga meski menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu.
- Penulis: Redaksi Kaltim12


